Kamis, 13 Februari 2014

analisis novel ayat-ayat cinta


AYAT-AYAT CINTA
     Fahri adalah seorang pemuda indonesia yang menuntut ilmu di universitas Al-Azhar Mesir.Syarat menjadi pelajar di universitas Al-Azhar adalah harus menghafal al-quran. Fahri yang merupakan pribadi yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan dalam agama islam tentu saja hafal al-quran. Nilai-nilai keimanan itulah yang dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari meskipun ia tinggal disebuah rusun tanpa sanak keluarga dari Indonesia. Namun dia tetap beruntung karena mengenal sebuah keluarga yang begitu baik kepadanya, Keluarga Maria.Maria adalah seorang gadis yang cantik jelita dengan kulit putih dan rambut pirang karena keturunan indo.Walaupun Maria seorang kristiani, tetapi Maria hafal beberapa surat dalam kitab suci al-quran yaitu surat maryam. Maria dan Fahri bertemu ketika Fahri pindah rumah satu lantai dibawah rumah Maria.fahri kagum kepada Maria yang selalu menutup aurat walau tidak memakai jilbab. Maria gadis yang pintar, lemah lembut,dan beretika. Suatu hari Maria memanggil Fahri dari kamarnya karena Fahri akan pergi keluar rumah dia menitipkan jus magga dan uang melalui sebuah keranjang yang dia turunkan dari kamarnya begitulah kebiasaan wanita Mesir yang tidak ingin keluar rumah berbelanja kepada pedagang yang lewat.
         Fahri terkejut ketika ustadz jamal guru mengajinya bertanya kepadanyakapan ia  menikah, ustadz jamal hendak menjodohkannya dengan keponakannya. Fahri diajak taaruf(perkanalan) kebiasaan diMesir sebelum menikah. Fahri menyetujuinya.
        Suatu malam terdengar suara keributan dan teriakan seorang wanita dirumah susun itu, tidak ada yang berani keluar untuk membantu karena keributan berasal  dari keluarga Bahadur yang sedang menyiksa anaknya Noura. Fahri menghubungi Maria lewat hendfondnya untuk menolong Noura dan menyembunyikan dirumah maria.
       Tiba saatnya Fahri melkukan taaruf dan mereka dipertemukan diruang tamu ustadz Jamal. Fahri kaget saat mengetahui gadis itu pernah ia temui dikereta bawah tanah, wanita itu bernama Aisha. Fahri menyetujui pernikahan dan menetapkan tanggal pernikahan.
       Suatu ketika ustadz Jalal datang membawa berita yang mengagetkan Fahri bahwa Nurul yang merupakan mahasiswa dari Indonesia telah cukup lama menyukai Fahri. Nurul sangat sedih mendengar berita Fahri akan menikah. Disisi lain Fahri ingin Maria dapat mengahadiri pernikahannya namun Maria sekeluarga pergi berlibur beberapa minggu.
     Baru beberapa waktu Fahri menikah dengan Aisha, Fahri ditangkap polisi karena tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Padahal Fahri tidak pernah menyentuh Noura. Saat itu Maria kembali kerumahnya, dia sangat sedih mengetahui Fahri telah menikah hingga jatuh sakit. Aisha  begitu kebingungan menghadapi masalah ini, ia tidak mau suaminya dipancung karena fitnah. Aisha minta bantuan ustadz Jamal karena Noura pernah mengirim surat yang brisi semua pristiwa mengenaskan malam itu. Namun naas surat itu tidak ditemukan satu-satunya saksi yang dapat membebaskan Fahri adalah Maria yang sedang terbaring koma dirumah sakit. Aisha  memaksa Fahri menikahi Maria agar ia bisa menyentuh Maria untuk memebebaskannya dari penyakit. Fahri kembali kepenjara untuk menghadapi persidangan Keesokan harinya. Semua saksi memberatkan Fahri sebagai pemerkosa. Hakim akan memutuskan hukuman kepada Fahri, tiba-tiba Maria datang membawa bukti-bukti yang  yang  kuat. Meyakinkan hakim dan seluruh orang yang ada dipersidangan bahwa bukan Fahri yang melakukan perbuatan hina itu. Kesaksian Maria tidak bisa dibantah oleh Noura, akhirnya Noura mengaku disuruh memfitnah oleh Bahadur ayah tirinya yang telah menghamilinya. Akhirnya Fahri dibebaskan dari penjara. Maria kembali jatuh pingsan dan koma.
        Ketika dirawat dan koma dirumah sakit, suatu malam Maria mimpi bertemu dengan ibunda  Maryam sosok yang diceritakan dalam surah maryam yang dia hafal dan selalu ia baca dalam sakitnya. Ketika terbangun, dia meminta agar Aisha dan Fahri membimbingnya masuk islam. Maria bewudu’ dan mengucapkan”ashaduallaillaha illallah waashaduanna muhammadarrasuluullah”.  Namun ditidurnya yang kali ini Maria tidak bangun lagi untuk selama-lamanya. Maria meninggal  dalam keadaan islam.
selesai




Unsur Intrisik.
1.Tema.
       Cinta.
2.Alur.
   Alur yang terkandung adalah campuran.
>Alur maju: Ketika fahri bertemu aisha hingga menikah (dikutip dari halaman 202-203)
>Alur mundur: Ketika Aisha menceritakan kisah keluarganya (dikutip dari halaman 255-264)
3.Latar
*Tempat
>Kota Kairo: ”Tengah hari ini kota Cairo seakan membara” (dikutip dari halaman 15)
>Flat            : “Aku sampai di Flat jam lima lebih seperempat” (dikutip dari halaman 57)
Di Cleopatra Restaurant: (dikutip dari halaman 122)

*Waktu
>Jam 10.10:”jam 10.10 aku sampai di manhattah metro” (dikutip dari halaman 93)
>Tengah hari: “tengah hari ini kota Cairo seakan membara” (dikutip dari halaman 15)
*Suasana
>Kaget: “madame Nahed benar-benar terkejut” (dikutip dari halaman 114)
>Senang,Haru: “Apa yang kalian lakukan sampai membuat mama menangis haru?” (dikutip dari halaman 114)
4.Sudut Pandang
>Orang pertama pelaku utama sebagai (aku). “aku tersenyum kecut” (dikutip dari halaman 91)
>Orang ketiga serba tahu.
5.Penokohan
>Maria : cerdas, “ia gadis yang sangat cerdas” (dikutip dari halaman 25)
>Nurul : rela berkorban,”aku tahu benar Nurul siap berkorban apa saja untuk kebaikan orang yang dicintainya” (dikutip dari halaman 230)
>Aisha : Ikhlas, “Fahri,menikahlah dengan maria,aku ikhlas.”. (dikutip dari halaman 376)
>Fahri :baik dan penyayang, “saya paling tidak tahan melihat seseorang tersiksa batinnya“
   (dikutip dari halaman 230)

6.Amanat
>Tersirat : Dalam merencanakan sesuatu kita akan mengalami halangan dan rintangan  yang menghadang tujuan kita yang hendak dicapai tidak akan berjalan mulus.
Semakin banyak ilmu pengetahuan yang didapat semakin banyak hambatan, dan tinggi keimanan semakin kuat cobaan yang akan kita hadapi yang harus dilewati dengan hati  yang sabar, dan yakin akan ada hikmahnya, sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan diluar batas kemampuan hambanya.
>Tersurat :Sebagai manusia kita harus saling menghargai dan menghormati,bersikap ramah dan sopan,walaupun beda agama,suku maupun negara.
“Ternyata sifat kalian tidak seperti yang digambarkan nabi,beliau bersabda bahwa oarang mesir sangat halus danramah. Tapi  ternyata kalian sangat kasar,mereka adalah tamu resmi yang harus dihormati “.(dikutipdari halaman 47-50)

7.Majas (Gaya bahasa)
>Personifikasi : “seumpama lidah api yang menjulur, menjilat-jilat bumi” (dikutip dari halaman 15)
                            “angin sahara menampar mukaku dengan kasar” (dikutip dari halaman 18)
>Klimaks      : “meskipun butut,ini tas yang bersejarah dan setia menemaniku menuntut ilmu sejak di       madrasah aliah,saat ini menempuh S2” (dikutip dari halaman 17)
>Hiperbola : “berada dalam metro seperti berada dalam oven “ ( dikutip dari halaman 58 )
                        “panas sahara seperti menghisap habis darahnya” (dikutip dari halaman 58 )
>Sarkasme : “ayolah khoemeini  benar ,Amerika itu setan! “(dikutip dari halaman 36)
>simile : “ditengah hari ini kota Cairo seakan membara “ (dikutip dari halaman 15)
>Anti klimaks : “Sahabat nabi itu meninggalkan ku, semakin lama semakin jauh, semakin kecil,        menjadi titik, dan menghilang “. (dikutip dari halaman 182 )
>Anafora : “ Tak kenal kata absen, tak kenal cuaca dan musim “ (dikutip dari halaman 16 )

Unsur ektrinsik
1.Unsur budaya
    Pengarang menyampaikan kebudayaan orang mesir dan juga menggambarkan kebudayaannya sebagai orang indonesia.
“ini adalah majlis ta’aruf  untuk dua orang yang akan melangsungkan pernikahan.begini kebiasaan orang mesir sebelum menikah.” (dikutip dari halaman 214 )
2.Unsur Pendidikan
Novel ini mangandung ajaran agama yang baik dan mencerminkan pendidikan yana ia peroleh dan kepribadiannya yang berakhlak mulia.
“secara akademis aku yang paling tinggi. Aku  tinggal menunggu penumuman  untuk menulis tesis master di Al-Azhar. Yang lain masih program S.1. (dikutip dari halaman 19 )
3.unsur  moral
Menampilkan cara pandang islam terhadap masalah kehidupan sehari-hari seperti pergaulan,cinta dan adab karena kecakapan penulis dalam agama.
“dan sumpah serapah yang mengadung laknat adalah yang termasuk paling kasar”. ( dikutip dari halaman 40 )




4.Unsur sosial
Penulis mencoba berdakwah dan menceritakan pengalamanny  selama di Mesir,dengan karakter orang disana serta suasana lingkungannya.
“Salah satu keindahan hidup di Mesir  adalah penduduknya yang lembut hatinya”. ( dikutip dari halaman 51 )
5.unsur agama
Penulis adalah alumni Al-Azhar Cairo,hal ini tercermin dari karya satranya ,dia mengangkat masalah islam sesuai pendidikan nya.
Masya Allah, semoga Allah menyertai langkahmu,” (dikutip dari halaman 32 )





Tidak ada komentar:

Posting Komentar